Embung Tirto Agung, Berkah Bagi Petani Dusun Krapyak

SALAMGOWES, SLEMAN – Pagi ini saya gowes ke dusun Krapyak, desa Margo Agung, Seyegan tepatnya di Embung Tirto Agung. Saya pun banyak melakukan improviasi rute yang susah untuk di tuliskan di sini, penanda yang paling mudah, yaitu perempatan SMPN 1 Seyegan belok kanan. Embung Tirto Agung berada di ujung barat wilayah dusun Krapyak berada di tepi jalan utama dusun tersebut. Menurut catatan Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Pemkab Sleman, embung Tirto Agung dapat menyuplai lahan pertanian seluar 30 hektare saat musim kemarau. Dengan demikian total terdapat 24 embung yang keberadaannya tersebar di wilayah Kabupaten Sleman. Embung Tirtoagung dibangun sejak 2014 dan bisa menampung 30 ribu meter kubik air, dan diresmikan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo, Minggu (12/04/2015).

Suara tonggeret menggema memecah kesunyian di area Embung Tirto Agung, Krapyak, Margodadi, Seyegan, Sleman. Suaranya lantang, namun sang pemilik suara tidak mudah ditemukan di antara rerimbunan tetumbuhan. Saya pun dibuat penasaran, mendekati sang pemilik suara, si tonggeret terdiam, berjalan menjauh, ia berderik kembali. Hal ini pun menjadi hiburan bagi saya, suara tonggeret saling bersahut-sahutan menampilkan orkestrasi alam. Area embung Tirto Agung banyak diketemukan keteduhan. Udara segar dan angin semilir menyentuh dengan syahdunya di tubuh saya. Pemandangan gunung Merapi menjadi latar belakang yang agung dengan rerimbunan tetumbuhan yang menjulang tinggi.

Pagi itu saya berkenalan dengan Pak Suyatno, salah satu petani yang lahan sawahnya tidak jauh dari embung Tirto Agung. Pria berusia 75 tahun tersebut menceritakan kegembiraan dengan dibangunnya embung tersebut. “Alhmadulillah, kulo kalian rencang-rencang sakniki gampil sanget madosi toya, sakdereng ipun ngrekaos. Rencang tani ten kilen dusun kanthi damel sumur kagem pengairan pas wekdal ketiga, sakniki pun kepenak,” ungkap Pak Yatno sapaan akrabnya dengan ekspresi sumringah. Pria yang sehari-harinya memakai sepeda onthel jenis feminim tersebut di sawah, biasanya membawa karung goni dan dua alat pertanian, yakni cangkul dan sabit. Sabit digunakannya untuk mencari rumput sebagai makanan kambing yang dia ternakan serta cangkul untuk mengolah tanah di sawah sebelum ditanami benih-benih padi.

Saya sempatkan mengabadikan keenam petani yang sedang melakukan penanaman benih di sebuah sawah. Posisi mereka membelakangi saya sehingga saya pun dengan mudah mengambil gambar tanpa harus memasang muka senyum dan sedikit ‘adol welas asih’ J. Selain itu posisi tersebut sangat efektif untuk menghindarkan mata mereka bertemu langsung dengan sinar matahari sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Selain lahan untuk padi, petani di dusun Krapyak juga menanam cabai dengan prosentase kurang lebih 25% dari total area persawahan yang ada. Pagi itu saya mendapatkan pembelajaran dari mereka, bagaimana bertahan hidup dengan profesi yang penting namun derasnya pembangunan membuat mereka tersisih. Saya berharap Bupati Sleman membuat kebijakan ketat mengenai lahan persawahan yang harus tetap di jaga kelestariannya, alangkah naifnya ketika pemerintah mencanangkan kedaulatan dan ketahanan pangan namun nasib petani malah terpinggirkan dan dipandang sebelah mata dari profesi lainnya dengan melakukan alih fungsi lahan pertanian dengan hal lain.

Desain embung Tirto Agung secara umum tidak berbeda jauh dengan lainnya, sekeliling embung di buatkan jalan inspeksi yang berfungsi memudahkan petugas dari Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Pemkab Sleman melakukan pemeriksaan. Lebar jalan inspeksi di setiap sisinya berbeda satu dengan lainnya menyesuaikan luas lahan embung tersebut. Pintu-pintu air yang tersebar di beberapa titik juga berwarna biru dengan pagar pembatas berwarna hijau. Kedalaman embung Tirto Agung kurang lebih 3-5 meter.

Ada satu lengkungan di area embung Tirto Agung yang mendapat julukan ‘Bokong Semar’, atau dalam bahasa Indonesia diesbut, pantat Semar.  Lengkungan ini sangat khas serta memiliki pemandangan yang bagus, yakni nyiur melambainya dahan-dahan pohon kelapa di belakangnya. Secara fotografi, tempat ini sangat fotogenic dengan air sebagai pantulan gambar dari pepohonan kelapa yang kita jadikan objek.

Menengok ke samping embung Tirto Agung terdapat saluran irigasi yang mengairi sawah serta kolam ikan yang berada di sekitar embung. Sebelah selatan embung terdapat kurang lebih 12 kolam ikan yang mendapat jatah pengairan dari embung tersebut. Selain itu terdapat instalasi irigasi manual yang mampu membagi air ketika aliran tersebut di aliri air dari embung. Pintu-pintu air embung Tirto Agung menjadi jalur utama distribusi air yang siap diterima sawah atau lahan yang masuk dalam jangkauan pengairan.

Selain untuk mengairi sawah, air dari embung Tirto Agung juga dimanfaatkan warga dusun Krapyak untuk mengairi beberapa petak kolam ikan yang berada di sisi selatan embung. Para petani ikan membudidayakan berbagai jenis ikan, yakni Gurameh, Nila, Lele, dan Bawal. Pak Sujarwo, salah satu petani ikan yang kebetulan sedang membersihkan rumput di area kolamnya menyatakan bahwa kelompok petani ikan di dusun Krapyak sangat terbantu dengan adanya embung tersebut. Kebutuhan air sebagai elemen utama kolam bukan hal yang sulit, distribusi pembagian air pun lancar bahkan berlimpah untuk memenuhi 10 hingga 12 petak kolam.

Sebelum meninggalkan embung Tirto Agung, saya sempatkan mendokumentasikan sepeda yang bersandar di salah satu sisi pagarnya. Dengan bersepeda tidak hanya mendapatkan badan sehat, melainkan kesehatan jiwa dan otak pun terisi kebutuhannya. Bagi saya bersepeda adalah media pembelajaran mengenal lingkungan dengan cara sederhana dan ramah lingkungan, setiap kayuhan adalah amal mencari ilmu dan mensedekahkannya kepada lainnya. (aanardian/salamgowes)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s