Menyelinap Di Lorong Kotagede

KOTAGEDE, SALAMGOWES – Ketika Danang Sutawijaya menjabat raja Mataram kedua, beliau menetapkan Kotagede sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Beliau juga membentuk kehidupan perkotaan yang menganut prinsip Catur Gatra Tunggal, yakni empat komponen dalam satu kesatuan, mencakup kraton atau istana, masjid, alun-alun, dan pasar.

Berdasarkan geografi administrasi Indonesia pada saat ini, kawasan Kotagede terdiri dari sebagian Kecamatan Kotagede (Prenggan dan Purbayan – Kota Yogyakarta) dan Kecamatan Banguntapan (Banguntapan, Jagalan, Singosaren – Kabupaten Bantul). Dengan luas wilayah 220 ha, kawasan Kotagede dibatasi oleh dua sungai, Manggisan di sisi timur dan Gajah Wong di sisi barat. Bagian utara berupa pemukiman dan bagian selatan berupa area persawahan.

Penelusuran kawasan Kotagede saya mulai dari jalan Mondorakan, ruas jalan yang didominasi pertokoan. Ruas jalan ini menjadi akses utama yang ingin menelusuri lorong perkampungan Kotagede.

Pada pagi itu ruas jalan tersebut menampakan keriuhan orang-orang beraktifitas mulai dari berangkat atau pulang dari pasar. Terlebih lagi ketika memasuki pasaran Wage, jalan Mondorakan menjadi macet karena banyak pedagang tumpah ruah memanfaatkan momen tersebut untuk berjualan.

Dari jalan Mondorakan kayuhan sepeda saya terus berlanjut menyusuri lorong gang di belakang Masjid Besar Kotagede. Lorong tersebut seolah melambaikan tangan sebagai tanda menerima kehadiran saya. Dinding batu-bata tua tersebut seakan-akan menceritakan kisah hidupnya yang sudah berjalan lebih dari tiga abad kepada saya. Masjid Besar Kotagede berada dalam wilayah administrasi Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul. Desa ini dinamakan Jagalan karena pada masa lampau merupakan tempat penyembelihan ternak atau jagal.

Selain lorong gang, ciri khas lain dari Kotagede adalah jalan rukunan. Pada umumnya jalan rukunan difungsikan sebagai tempat bersosialisasi warga dan tempat menggelar hajat, pernikahan, acara tujuhbelasan dan takziah. Jalan ini biasa dijumpai di dekat area makan/masjid. Jalan ini merupakan bentukan dari deretan ruang terbuka di antara dalem dan pendapa.

Masih menelusuri lorong gang daerah Jagalan, saya berhenti sejenak di sebuah rumah besar yang menjadi salah satu ikon heritage Kotagede: Rumah Persik. Bangunan megah dengan dinding tembok yang berhias patung dan ornamen setinggi dua meter adalah milik Rudi Persik pemerhati budaya yang tinggal di Jakarta. Bangunan ini berada dalam cluster Tumenggungan. Mengutip pernyataan Laretna T. Adhisakti, peneliti dan staf pengajar Jurusan Teknik Arsitektur UGM yang dimuat di majalah National Geografi Traveler Juli 2010, Vol 2, No 4, “Rumah ini memiliki bsngun arsitektur omah kalang salah satu tipe rumah Kotagede selain tradisional.”

Pada masa Sultan Agung berkuasa wong kalang berprofesi khusus sebagai pembuat pelana kuda, pemintal tali, pertukangan (undagi) kayu dan pelaksana tugas grebeg kerajaan. Seiring perkembangan jaman, banyak wong kalang berakih profesi menjadi pedagang atau saudagar. Alih profesi inilah berdampak pada kemakmuran wong kalang yang direpresentasikan pada tampilan mewah omah kalang dengan memakai ukiran khusus dari kerajaan untuk menghiasi rumahnya.

Kayuhan sepeda terus menyusuri lorong-lorong labirin tersebut, saya sempatkan mengabadikan gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu sepeda dan satu pejalan kaki. Gang tersebut menghubungkan jalan Mondorakan ke bagian tembok belakang Masjid Besar Kotagede. Menyelinap di antara tembok-tembok rumah yang saling berdempetan, toleransi dan saling menyapa menjadi kunci keramahan dari himpitan tembok-tembok tinggi tersebut.

Seusai menyelesaikan misi menyelinap di lorong Kotagede, saya memutuskan mengisi perut yang lapar dengan menu Nasi Lemak Kedai 27 utara perempatan lapangan Karang. Saya menyebutnya Nasi Lemak Mak Cik Syarifah, karena kuliner tersebut berasal dari negeri Jiran Malaysia. Nasi Lemak menjadi salah satu hidangan nasional warga Malaysia, memasuki bulan Ramadhan hidangan tersebut menjadi salah satu menu wajib berbuka puasa.

Selain itu, di Kedai 27 Mak Cik Syarifah ada sesuatu yang unik dan menjadi ciri khas kedai makan di Malaysia. Setiap meja selalu disediakan satu set teko air putih yang digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Satu set teko tersebut biasanya terpasang tulisan tidak untuk diminum agar pengunjung tidak meminum air tersebut. (aanardian/salamgowes)

Iklan

4 thoughts on “Menyelinap Di Lorong Kotagede

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s