Melacak Jejak Geger Sepoy di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

YOGYAKARTA, SALAMGOWES – Setiap manusia baik secara personal atau bebrayan tentu memiliki pusaka yang tersimpan dalam lubuk dirinya, bisa itu berwujud benda, ajaran atau sosok panutan. Kota Yogyakarta sebagai satu kesatuan masyarakat tentu saja memiliki berbagai pusaka peninggalan yang multi wujud, mulai dari benda cagar budaya, perangkat peraturan sosial, hingga upacara tradisi yang telah turun termurun.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa adalah pusaka budaya yang dianggap sebagai bulan sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 00.00 WIB saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di keraton   Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di keraton  Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Sementara itu di keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng Baluwarti keraton Ngayogyakarta Hadiningratyang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Ritual ini menginsipirasi saya untuk melacak jejak Geger Sepoy yang terjadi ketika Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles melakukan serangan militer di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Perisitiwa yang terjadi pada hari Jum’at – Sabtu, 19 – 20 Juni 1812, dicatat oleh seorang prajurit  Inggris, Kapten William Thorn. Dia menulis perjalanan penaklukan Inggris ke Jawa dalam Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815 di London. Perang ini dipicu dari sikap politik Sri Sultan Hamengkubuwono II yang keras terhadap kebijakan Kerajaan Inggris yang diterapkan kepada keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam bukunya Memoir of The Conquest of Java, Kapten William Thorn melukiskan keadaan benteng keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat dikelilingi oleh parit lebar nan dalam dengan jembatan jungkit, bertembol tebal dengan bastion (pojok benteng yang menjorok keluar) diperkuat dengan seratus meriam. Dalam pertempuran dua hari tersebut, kerajaan Inggris berkuatan 1.000 personil prajurit  berseragam merah yang terdiri dari prajurit  Eropa, dan Sepoi asal India. Jumlah pasukan ini masih ditambah 500 prajurit Legiun Pangeran Prangwedono asal Mangkunagaran, dan pasukan tempur dari Letkol. Alexander MacLeod Salatiga. Menurut Thorn, jumlah prajurit  keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat yang berada di dalam benteng Baluwarti sejumlah 17.000 prajurit.

Prajurit kerajaan Inggris berhasil mengecoh prajurit Keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikonsentrasikan di kawasan Alun-alun Utara lengkap dengan meriam-meriam bermulut ganda. Kolonel James Watson yang ditugaskan memimpin pasukan Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires berhasil meledakkan jantung pertahanan prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada sisi timur benteng Baluwarti (sekarang jalan Brigjend Katamso).

Keberhasilan Kolonel James Watson melakukan serangan utama di sisi timur benteng Baluwarti tidak terlepas dari informasi mengenai gudang mesiu yang disimpan di bastion timur laut. Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires berhasil meledakan bangunan tersebut membuat pertahanan Baluwarti melemah sehingga mereka berhasil menurunkan jembatan jungkit di gerbang utama Kadipaten (sekarang Plengkung Wijilan). Akibat ledakan yang dahsyat tersebut, sekarang ini benteng Baluwati hanya menyisakan tiga bastion, yakni Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor  (sekarang depan taman parkir Ngabean).

Daya juang yang tinggi dengan strategi perang yang mumpuni, pasukan koalisi kerajaan Inggris (prajurit  Sepoy dan Inggris) berhasil masuk ke dalam benteng Baluwarti dengan membobol pintu gerbang barat, Plengkung Jagabaya. Pasukan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hanya berhasil mempertahankan pojok beteng barat laut (depan taman parkir Ngabean), dan berhasil menyelamatkan diri, dan bersembunyi di masjid agung keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Puncak serangan pasukan koalisi kerajaan Inggris (prajurit  Sepoy dan Inggris) pada hari kedua, yaitu Sabtu, 20 Juni 1812. Ketika fajar menyingsing prajurit -prajurit  Inggris, dan Sepoy, dan juga orang-orangnya Pangeran Notokusumo menyebar mengepung tembok keraton. Beberapa dari mereka berhasil masuk benteng Baluwarti dengan menggunakan tangga bambu yang telah disiapkan oleh  Kapiten Cina, Tan Jin Sing, tokoh masyarakat Tionghoa yang sangat mendukung serbuang Inggris, sikap inilah yang kelak menimbulkan sentimen anti-Tionghoa yang sangat kuat di Yogyakarta. (Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 -1855, hal. 168 : 2)

Melihat posisi Inggris yang sudah memasuki kawasan kedaton (bagian inti pusat keraton ), Sri Sultan Hamengkubuwono II memutuksan untuk mengibarkan bendera putih, memanggil para panglima perangnya, dan memerintahkan pasukan keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat meletakkan senjata. Sultan mengira dengan sikap menyerah secara sukarela, nasib keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih bisa diselamatkan.  (Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 -1855, hal. 170 : 3).

Kekalahan ini tentu saja tidak terlepas dari faktor internal keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Menurut Peter Brian Ramsay Carey, seorang Professor Emeritus dari Trinity College, Inggris, memaparkan suasana dari dalam Baluwarti lewat salah satu sumber Jawa tentang pertempuran tersebut.

“Banyak di antara pangeran yang mestinya memberi teladan di medan tempur dengan memimpin perlawanan, hanya mencawat ekor dalam perlindungan pintu-pintu gerbang atau berpura-pura sakit. Bahkan, sebagian dari mereka mencari selamat dengan cara keluar keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju desa-desa di pinggiran dan makam Imogiri.” demikian tulis Carey, berdasarkan pemerian babad tersebut dalam bukunya, Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011.

Geger Sepoy menjadi satu bagian dari invasi besar-besaran Kerajaan Inggris di Pulau Jawa pada tahun 1811, hal ini merupakan ekspedisi prajurit laut terbesar dalam sejarah, hingga menjelang PD II. Atas titah Lord Minto, untuk merebut kekuasaan Prancis di Jawa, Letjend. Sir Samuel Auchmuty menurunkan kurang lebih 12.000 prajurit  yang berlayar dalam 100 kapal melintasi Samudra Hindia, dan mendarat di Cilincing. Dalam bukunya Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815, Kapten William Thorn menuliskan bahwa,  “Nama Djoejocarta [Yogyakarta] akan selalu mengingatkan kisah kegagahan serdadu Inggris.”

Inilah akhir kisah peristiwa Geger Sepoy yang harus dibayar mahal oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II, awal Juli 1812 dirinya dijadikan tahanan, dan dibuang di Pulau Penang. Selain itu penjarahan besar-besaran yang dilakukan koalisi prajurit kerajaan Inggris atas harta, pusaka, dan pustaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (aanardian/salamgowes)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s