Berhenti di Tepian Bendungan Karangtalun

NGLUWAR, SALAMGOWES – Suara gemuruh terus berbunyi ketika air dari kali Progo masuk di Bendungan Karangtalun. Di tepian pintu air bendungan tersebut, saya mendengar percakapan kecil, “Welkomm bij de Nederlands-Indie, Meneer,” ujar seorang petugas pintu air kepada pejabat irigasi Belanda yang berdiri tegap di sampingnya.

Tentu saja, percakapan tersebut adalah imajinasi saya membayangkan Bendungan Karangtalunpada kala itu berfungsi sebagai saluran irigasi utama bagi perkebunan tebu yang berada di kecamatan Minggir Sleman hingga Sedayu Bantul.Saya sengaja menggunakan anakronism untuk mengelitik daya imajinasi pembaca menggambarkan jejak sejarah pembangunan bendungan tersebut.

BendunganKarangtalun_007

Rute gowes kali ini, saya mengunjungi Bendungan Karangtalun dengan menyusuri sepanjang jalan Kebon Agung dari perempatan Kronggahan hingga depan Mie Ayam Goreng Seyegan. Setelah itu saya belok kanan menyusuri Selokan Mataram di daerah Banyurejo Tempel Sleman. Perjalanan yang tidak berat karena kondisi  jalan yang bagus, dan sedikit melewati semak belukar sebagai prasyarat agar cerita ini berbau sedikit cross country.

Kurang lebih satu jam, perjalanan saya sampai di Bendungan Karangtalun, bangunan lama yang mengalirkan sebagian air kali Progo hingga kali Opak Kalasan Sleman Yogyakarta.  Gemuruh air mendominasisuara yang masuk di telinga saya, kemudian saya mengunci sepeda, turun ke bawah menuju pintu air bendungan tersebut. Sesampainya di bawah, saya langsung menuju kincir air pembangkit listrik yang sedang dalam proses pemasangan. Nampak beberapa onderdil belum terpasang, dan kayu balok besar dipasang untuk menahan laju kincir air tersebut.

BendunganKarangtalun_009

Bendungan Karangtalun pertama kali dibangun pada awal abad ke-20 tepatnya tahun 1909 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIIIuntuk menyediakan kebutuhan air bagi perkebunan tebu. Pada saat itu di beberapa wilayah Yogyakarta berdiri sekitar 17 pabrik gula, oleh karena itu dibangunlah sarana-prasarana pengairan untuk menopang kelangsungan industri gula di kota Yogyakarta. Pada saat bersamaan pembangunan Selokan Van Der Wijk dilakukan sebagai saluran irigasi yang mendistribusikan air untuk perkebunan tebu yang berada di wilayah Sleman barat hingga Bantul Barat Sedayu ke selatan.

Bendungan Karangtalun memiliki empat pintu air yang berfungsi memecah arus kali Progoyang masuk di saluran irigasi tersebut. Keempat pintu air tersebut memiliki galangan atau bantaran dengan panjang sekitar 10 meter. Distribusi air bendungan tersebut mampu mengairi 30.000 hektar lahan pertanian di Kab. Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta, selain itu bendungan tersebut ini menjadi hulu bagi Selokan Van Der Wijk/Bok Renteng, dan Selokan Mataram/Kanal Yoshiro.

BendunganKarangtalun_008

Konon cerita, setelah mengunjungi Bendungan Karangtalun beliau mendapatkan ‘bisikan’ dari Sunan Kalijaga untuk menyatukan kali Progo, dan Opak yang jaraknya sangat jauh sekali.  Pada masa itu, sabda Sunan Kalijaga adalah sebuah kutukan karena tidak mungkin untuk dilakukan, satu di sisi barat dan satunya di sisi timur wilayah Mataram. Berkat karomah Sunan Kalijaga, keinginan tersebut menjadi kenyataan. Selokan Mataram mampu mengairi ribuan hektar sawah yang dilaluinya hingga sekarang ini.

Tidak diragukan lagi, Bendungan Karangtalunmenjadi saksi bisu bisu sejarah irigasi bagi pertanian di Yogyakarta di awal abad ke-20, dan cikal bakal pembangunan mega proyek Selokan Mataram yang menghubungkan kali Progo dengan kali Opak dengan panjang kurang lebih 31,2 km dan mengairi areal pertanian seluas 15.734 ha. Pembangunan Selokan Mataram tersebut berhasil berkat kecerdikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX menghindarkan rakyat Yogyakarta menjadi tenaga romusha Jepang yang dikirim ke Burma atau Myanmar menjadi tenaga suka rela dalam proyek tersebut.

BendunganKarangtalun_010

Meskipun sinar matahari masih bersahabat serta suasana di Bendungan Karangtalunsejuk, dan ditingkahi suara gemuruh air, saya putuskan untuk melajutkan perjalanan pulang. Rute yang saya pilih berbeda ketika berangkat, yakni menyusuri Selokan Mataram. Pemilihan rute tersebut didasarkan pada lokasi ketika saya mau pulang, yakni dimulai dari nol kilometer Selokan Mataram. Dalam perjalanan pulang, saya belajar dari filosofi bendungan, yaitu harus pandai dan bijak menyimpan serta menyalurkan persoalan dalam diri  kita masing-masing. Setiap keinginan yang tersimpan, dan  ingin dilampiaskan haruslah tetap menggunakan takaran yang pas sehingga efek yang ditimbulkannya pun tetap memiliki harmoni dengan lingkungan. (aanardian/salamgowes)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s